RSS

Arsip Kategori: Tak Berkategori

Makna kemerdekaan dalam pendidikan

Baru saja kita memperingati 63 tahun kemerdekaan Indonesia. Momentum itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya guna merefleksikan apa saja yang sudah dilakukan untuk bangsa, sembari memikirkan solusi untuk keluar dari jeratan krisis.Tidak kalah pentingnya, perlu dilakukan penyegaran sekaligus pembaruan model peringatan kemerdekaan, dari sekadar seremonial tanpa makna menjadi spirit yang membangun semangat nasionalisme dan kebangsaan.
Pembaruan dan penyegaran itu, salah satunya bisa dilakukan dengan membenahi sistem pendidikan bangsa. Mengapa demikian? Karena sistem pendidikan saat ini, telah melenceng jauh dari cita-cita para pendirinya (founding father), khususnya pada masa-masa prakemerdekaan.
Sejarah membuktikan bahwa pendidikan memberi kontribusi yang besar dalam membidani kelahiran kemerdekaan. Melalui pendidikan, tokoh seperti R.A. Kartini, R. Dewi Sartika, K.H. Ahmad Dahlan, Ki Hajar Dewantara, dan Teuku Moh. Syafei, menanamkan jiwa dan semangat nasionalisme kepada generasi muda. Pendek kata, para tokoh itu membangun visi dan misi pendidikan dalam bingkai kebangunan Indonesia untuk meraih kemerdekaan dan kebebasan.
Ki Hajar Dewantara, misalnya, mendirikan Taman Siswa pada 3 Juli 1922, dengan tujuan ingin menumbuhkan kesadaran bahwa bangsa ini memiliki martabat dan harapan untuk menjadi manusia merdeka. Ki Hajar meyakini, penyadaran melalui lembaga pendidikan adalah usaha yang manjur. Hasilnya, kesadaran sebagai bangsa yang bermartabat dan berkeinginan untuk merdeka pun tumbuh.
Contoh lain, dengan didirikannya organisasi Budi Utomo (1908), Perhimpunan Indonesia (1926), dan dicetuskannya Sumpah Pemuda (1928). Pada masa perang kemerdekaan dan revolusi untuk mempertahankannya, generasi muda yang terpelajar itu tidak sekadar mampu merancang organisasi atau menjadi aktivis, tetapi mereka juga memiliki keberanian dan strategi untuk membangun kekuatan bersenjata yang dikenal dengan sebutan Tentara Pelajar (TP).
Pendidikan dikebiri
Sayangnya, model pendidikan yang menumbuhkan jiwa kebangsaan dan perasaan merdeka itu, dicerabut dan dikebiri dari sistem pendidikan saat ini. Alih-alih, bukannya menjadi sarana memerdekakan peserta didik, tetapi justru membelenggu, memenjarakan, dan menindas. Itu dapat kita lihat dengan adanya kebijakan sertifikasi guru, kebijakan membalik rasio SMK dan SMA, penyamaan ujian akhir nasional (UAN) SMK dengan SMA, dan sebagainya.
Belum lagi, biaya pendidikan yang terasa kian mahal dan hampir tak terjangkau rakyat miskin. Pada jenjang pendidikan tinggi misalnya, sejumlah perguruan tinggi negeri berubah menjadi badan hukum milik negara. Perubahan ini mendorong lembaga-lembaga pendidikan, yang seharusnya melahirkan manusia-manusia terpelajar, justru terbelenggu dengan upaya mencari uang sekaligus menjauhkan diri dari masyarakat yang seharusnya dilayani. Maka, impian untuk mendapatkan pendidikan murah, baik, dan berkualitas tidak akan pernah terwujud.
Pada aspek filosofi, pendidikan yang mestinya dimaknai secara luas, ternyata hanya dipahami sebagai proses formal, sekadar proses alih pengetahuan. Bahkan, pendidikan tidak mampu lagi menjadi sarana liberasi, yakni sebagai sebuah proses kerja kreatif dan responsif untuk memerdekakan dan memberdayakan pelajar. Wajar jika spirit kemerdekaan, kebebasan, dan pencerahan sulit ditemukan dalam sistem dan praktik pendidikan tersebut. Tidak ada ruang dan waktu yang memadai bagi terjadinya liberasi yang mendorong sikap mental para pelajar untuk menjadi manusia merdeka.
Hasil lulusan atau output pendidikan yang jauh dari spirit kemerdekaan dan kebangsaan, kata Amien Rais (2008), hanya menghasilkan pemimpin, pengusaha, parlemen (anggota DPR), jaksa dan sebagainya, yang bermental inlander, penjilat, dan rela dijadikan budak korporasi-korporasi besar milik Amerika dan sekutu-sekutunya. Sebagai contoh, ketika kekayaan alam berupa minyak, gas, batu bara dan emas, dijarah beberapa perusahaan Amerika, para pemimpin berjiwa inlander itu tidak bisa berbuat apa-apa.
Spirit kemerdekaan
Tidak ada pilihan lain bagi bangsa ini, selain mengambil semangat dan spirit kemerdekaan, untuk merancang pendidikan bangsa berjiwa merdeka. Spirit kemerdekaan dalam pendidikan ini bisa diwujudkan paling tidak dalam dua hal. Pertama, dalam sistem pendidikan yang diwujudkan dengan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, kemerdekaan, dan egalitarianisme, dalam menyusun visi dan tujuan pendidikan, desain konsep pembelajaran, metode pengajaran, kurikulum, biaya sekolah, peningkatan karier dan gaji guru.
Kedua, dalam praktik pendidikan dengan mengimplementasikan spirit kemerdekaan dalam seluruh proses pembelajaran; interaksi antara siswa dan guru, sesama guru, dan antarsiswa. Misalnya melalui pengajaran yang kontekstual, dialog, dan presentasi, pelajaran yang interaktif dan partisipatoris, penilaian yang transparan, dan sebagainya.
Pendidikan juga perlu menanamkan sikap kritis pada anak didiknya. Melalui model pendidikan seperti itu, terlahir manusia-manusia kritis yang mampu melihat aneka tantangan dari zamannya, berani membicarakan berbagai masalah lingkungan, dan ikut menangani lingkungannya.
Spirit kemerdekaan dan pendidikan kritis, kata Asep P.B. (2006), akan menumbuhkan kuriositas intelektual, kematangan emosional, dan kejernihan spiritual anak didik. Mereka akan mampu melakukan transformasi diri menjadi orang-orang yang terbebaskan, lantaran institusi pendidikan dan lingkungan memberikan ruang dan iklim yang kondusif.
Selain itu, eksistensi pendidikan yang memiliki spirit kemerdekaan akan diperhitungkan dalam konteks demokrasi. Artinya, pendidikan dipercaya punya pengaruh yang positif bagi demokratisasi, sekaligus menghasilkan kualitas hidup masyarakat yang lebih baik. Dalam perspektif ini, pendidikan bisa dilihat sebagai sebuah institusi untuk menginternalisasikan dan menyosialisasikan kemerdekaan, prinsip kemandirian, dan nilai hak asasi manusia harus bisa dijalankan. Semoga.[]
Penulis : Al arham

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Agustus 2015 in Tak Berkategori

 

Akhirat itu lama

Perbandingan Matematis di Dunia dan di Akhirat Berdasarkan Al-Quran http://alarham.blogspot.com/2015/08/perbandingan-matematis-di-dunia-dan-di.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Agustus 2015 in Tak Berkategori

 

MESIN PENCARI RAKSASA GOOGLE

SEJARAH BERDIRINYA MESIN PENCARI RAKSASA ” GOOGLE ” http://arhamby.blogspot.com/2015/08/sejarah-berdirinya-mesin-pencari.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Agustus 2015 in Tak Berkategori

 

TATA CARA SHALAT TARAWIH DAN WITIR

image

tuntunan lengkap tata cara bacaan bilal doa shalat tarawih dan witir

    

Shalat Tarawih adalah shalat sunnat malam hari di bulan puasa ramadhan yang waktu pelaksanaan sholat sunnat tarawehnya dilaksanakan setelah sholat isya. Shalat Tarawih biasanya dikerjakan secara berjama’ah maupun sendirian baik di masjid maupun dirumah. Pada umumnya shalat teraweh dikerjakan minimal 11 rakaat namun adapula Shalat Tarawih yang dikerjakan 23 rakaat yang pada setiap dua rakaat ditutup dengan salam kemudian teruskan dengan shalat witir tiga rakaat dengan dua salam atau satu kali salam.Namun bagi yang shalat tarawih 11 rakaat biasanya mengerjakan 2 kali salam dengan setiap 4 rakaat ditutup dengan 3 rakaat witir.

Adapun tata cara bacaan doa shalat sunnat taraweh surat yang dibaca sesudah Al-Fatihah pada tiap2 rakaat boleh surat apa saja yang dikehendaki, tetapi diutamakan pada setiap rakaat yang kedua sesudah membaca surat Al-Fatihah membaca surat-surat pendek seperti surat Al-Ikhlas.

Berikut adalah  tuntunan tata cara bacaan bilal doa shalat tarawih dan witir lengkap dengan bacaan shalawat tarawih dan witir 23 rakaat

Doa niat shalat Tarawih :

“USHALLI  SUNNATAN  TARAWIIHI  RAK’ATAINI  (IMAAMAN/MA’MUUMAN) LILLAAHI  TA’AALAA”.

Doa awal yang dibaca bilal dan ma’mum ketika akan mengerjakan shalat Tarawih,

“SUBHAANAL  MALIKIL  MA’BUUDI,  SUBHAANAL  MALIKIL  MAUJUUDI,  SUBHAANAL  MALIKIL  HAYYIL  LADZII  LAA  YANAAMU  WALAA  YAMUUTU  WALAA  YAFUUTU  ABADAN  SUBBUUHUN  QUDDUUSUN  RABBUNAA  WARABBUL  MALAAIKATI  WARRUUHI  SUBHAANALLAAHI  WAL  HAMDU  LILLAAHI  WALAA  ILAAHA  ILLALLAAHU WALLAAHU  AKBARU  WALAA  HAULA  WALAA  QUWWATA ILLAA  BILLAAHIL  ‘ALIYYIL  ‘ADHIIMI”.

Kemudian bilal membaca shalawat :

“ALLAAHUMMA  SHALLI  ‘ALAA  SAYYIDINAA  MUHAMMAD”.

Dijawab  para jama’ah :

“ALLAAHUMMA SHALLI WASALLIM  ‘ALAIH”.

Setelah itu bilal membaca shalawat lagi :

“ALLAAHUMMA  SHALLI  ‘ALAA  SAYYIDINAA  WAMAULAANA  MUHAMMADIN”.

Dijawab para jama’ah :

“ALLAAHUMMA  SHALLI  WASALLIM  ‘ALAIH”.

Kemudian bilal membaca shalawat lagi :

“ALLAHUMMA  SHALLI  ‘ALAA  SAYYIDINAA  WANABIYYINAA  WAHABIIBINA  WASYAFII’INAA  WADZUHRINAA  WAMAULAANAA  MUHAMMADIN”.

Dijawab para jama’ah :

“ALLAAHUMMA  SHALLI  WASALLIM  ‘ALAIH”.

Lalu bilal mengucapkan :

“ASHSHALAATU SUNNATAN  TARAAWIIHI  JAMIATU RAHIMA  KUMULLAAHU”.

Kemudian imam serta para jama’ah berdiri untuk melakukan shalat Tarawih dua rakaat, sebagai shalat Tarawih dua rakaat yang pertama.

Sesudah salam pada dua rakaat yang pertama, bilal bersama jama’ah mengucapkan :

“FADL-LAM  MINALLAAHI  WANI’MATAN  WAMAGHFIRATAN  WARAHMATAN  LAA  ILAAHA  ILAAHA  ILLALLAHU  WAHDAHU LAA SYARIIKA  LAHU, LAHUL  MULKU  WALAHUL  HAMDU  YUHYII  WAYUMIITU  WAHUWA ‘ALAA  KULLI  SYAI-IN  QADIIR”.

Setelah itu bilal membaca shalawat seperti tersebut diatas, dan para jama’ah menjawabnya dengan “ALLAHUMMA  SHALLI  WASALLIM ‘ALAIH”.

Lalu imam serta para jama’ah berdiri lagi untuk melakukan shalat Tarawih dua rakaat, sebagai shalat Tarawih dua rakaat yang kedua. Selesai salam pada rakaat yang keempat, bilal bersama-sama para jama’ah membaca :

“SUBHAANAL  MALIKIL  MA’BUUDI,  SUBHAANAL  MALIKIL  MAUJUUDI,  SUBHAANAL  MALIKIL  HAYYIL  LADZII  LAA  YANAAMU  WALAA  YAMUUTU  WALAA  YAFUUTU  ABADAN  SUBBUUHUN  QUDDUUSUN  RABBUNAA  WARABBUL  MALAAIKATI  WARRUUHI  SUBHAANALLAAHI  WAL  HAMDU  LILLAAHI  WALAA  ILAAHA  ILLALLAAHU WALLAAHU  AKBARU  WALAA  HAULA  WALAA  QUWWATA ILLAA  BILLAAHIL  ‘ALIYYIL  ‘ADHIIMI”.

Sehabis itu bilal membaca shalawat seperti tersebut diatas dan para jama’ah menjawab dengan

“ALLAHUMMA  SHALLI  WASALLIM ‘ALAIH”.

Lalu bilal mengucapkan :

“ALBADRUL  MUNIIRU  SAYYIDUNAA  MUHAMMADUN  SHALLUU ‘ALAIHI”.

Setelah itu imam serta para jama’ah berdiri lagi untuk melakukan shalat Tarawih dua rakaat, sebagai shalat Tarawih dua rakaat yang ketiga.

Selesai salam pada rakaat yang keenam maka bilal beserta para jama’ah mengucapkan

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Juni 2015 in Tak Berkategori

 

SHOLAT TARAWIH

image

Salat Tarawih (kadang-kadang disebut Teraweh atau Taraweh) adalah salat sunnat yang dilakukan khusus hanya pada bulan ramadan. Tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jama’ dari تَرْوِيْحَةٌ yang diartikan sebagai “waktu sesaat untuk istirahat”. Waktu pelaksanaan salat sunnat ini adalah selepas isya’, biasanya dilakukan secara berjamaah di masjid. Fakta menarik tentang salat ini ialah bahwa rasulullah  hanya pernah melakukannya secara berjama’ah dalam 3 kali kesempatan. Disebutkan bahwa rasulullah kemudian tidak melanjutkan pada malam-malam berikutnya karena takut hal itu akan menjadi diwajibkan kepada ummat muslim (lihat sub seksi hadits tentang Tarawih).

Rakaat salatSunting

Terdapat beberapa praktik tentang jumlah rakaat dan jumlah salam pada salat Tarawih. Pada masa Nabi Muhammad shalat Tarawih hanya dilakukan tiga atau empat kali saja, tanpa ada satu pun keterangan yang menyebutkan jumlah rakaatnya. Kemudian shalat Tarawih berjamaah dihentikan, karena ada kekhawatiran akan diwajibkan. Barulah pada zaman khalifah Umar shalat Tarawih dihidupkan kembali dengan berjamaah, dengan jumlah 20 raka’at dilanjutkan dengan 3 raka’at witir.

Sejak saat itu umat Islam di seluruh dunia menjalankan shalat Tarawih tiap malam-malam bulan Ramadhan dengan 20 rakaat. Empat mazhab yang berbeda, yaitu mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah serta Al-Hanabilah, semua sepakat menetapkan jumlah 20 rakaat sebagai bilangan shalat Tarawih. Sedangkan Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah dari Bani Umayyah di Damaskus menjalankan shalat Tarawih dengan 36 rakaat. Dan Ibnu Taimiyah menjalankan 40 rakaat.

Yang pertama kali menetapkan shalat Tarawih hanya 8 atau 11 rakaat dalam sejarah adalah pendapat orang-orang di akhir zaman, seperti Ash-Shan’ani (w.1182 H), Al-Mubarakfury (w. 1353 H) dan Al-Albani. Ash-Shan’ani Penulis  Subulus-salam sebenarnya tidak sampai mengatakan shalat Tarawih hanya 8 rakaat, dia hanya mengatakan bahwa shalat Tarawih itu tidak dibatasi jumlahnya. Sedangkan Al-Mubarakfury memang lebih mengunggulkan shalat Tarawih 8 rakat, tanpa menyalahkan pendapat yang 20 rakaat.

Tetapi yang paling ekstrim adalah pendapat Al-Albani yang sebenarnya tidak termasuk kalangan ahli fiqih. Dia mengemukakan pendapatnya yang menyendiri dalam kitabnya, Risalah Tarawih, bahwa shalat Tarawih yang lebih dari 8 plus witir 3  rakaat, sama saja dengan shalat Dzhuhur 5 rakaat. Selain tidak sah juga dianggap berdosa besar bila dikerjakan.

Perbedaan pendapat menyikapi boleh tidaknya jumlah raka’at yang mencapai bilangan 20 itu adalah tema klasik yang bahkan bertahan hingga saat ini, seperti yang dilakukan sebagian besar pengikut Nahdlatul Ulama[butuh rujukan]. Sedangkan mengenai jumlah salam praktik umum adalah salam tiap dua raka’at namun ada juga yang salam tiap empat raka’at. Sehingga bila akan menunaikan Tarawih dalam 8 raka’at maka formasinya adalah salam tiap dua raka’at dikerjakan empat kali, atau salam tiap empat raka’at dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir tiga raka’at sebagaimana yang dilakukan sebagian besar pengikut Muhammadiyah

Niat salatSunting

Niat salat ini, sebagaimana juga salat-salat yang lain cukup diucapkan di dalam hati, yang terpenting adalah niat hanya semata karena Allah Ta’ala semata dengan hati yang ikhlas dan mengharapkan ridhoNya, apabila ingin dilafalkan jangan terlalu keras sehingga mengganggu Muslim lainnya, memang ada beberapa pendapat tentang niat ini gunakanlah dengan hikmah bijaksana.

Secara lengkap, niat salat Tarawih 2 rakaat adalah:

“ َأُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيحِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُومًا/إِمَامًا للهِ تَعَالَى
“Ushalli sunnatat taraawiihi rak’ataini (ma’muman/imaaman) lillahi ta’aalaa.”


Artinya: ” Aku niat Salat Tarawih dua rakaat (menjadi makmum/ imam) karena Allah Ta’ala”

ATAU

“ َأُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيحِ رَكْعَتَيْنِ للهِ تَعَالَى
“Usholli sunnatattarowihi rok’ataini lillahi ta’ala”


Artinya: ” Aku niat Salat Tarawih dua rakaat karena Allah Ta’ala”

Walaupun demikian, ada beberapa cara dalam mengerjakan salat Tarawih, salah satunya dengan formasi 2 kali 4 rakaat masing masing dengan sekali salam setiap selesai 4 rakaat. Oleh karena itu, dalam niat salat Tarawih, niatnya disesuaikan menjadi “arba’a raka’atin”.

Beberapa Hadits TerkaitSunting

“Sesungguhnya rasulullah pada suatu malam salat di masjid lalu para sahabat mengikuti salat Dia, kemudian pada malam berikutnya (malam kedua) Dia salat maka manusia semakin banyak (yang mengikuti salat nabi), kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat. Maka rasulullah  tidak keluar pada mereka, lalu ketika pagi harinya Dia bersabda: ‘Sungguh aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan, dan tidaklah ada yang mencegahku keluar kepada kalian kecuali sesungguhnya aku khawatir akan diwajibkan pada kalian,’ dan (peristiwa) itu terjadi di bulan Ramadan.” (Muttafaqun ‘alaih)
“Artinya: Dari Jabir bin Abdullah radyillahu ‘anhum, ia berkata: Rasulullah  pernah salat bersama kami di bulan Ramadan (sebanyak) delapan raka’at dan witir (satu raka’at). Maka pada hari berikutnya kami berkumpul di masjid dan mengharap dia keluar (untuk salat), tetapi tidak keluar hingga masuk waktu pagi, kemudian kami masuk kepadanya, lalu kami berkata: Ya Rasulullah ! Tadi malam kami telah berkumpul di masjid dan kami harapkan engkau mau salat bersama kami, maka sabdanya “Sesungguhnya aku khawatir (salat itu) akan diwajibkan atas kamu sekalian”.(Hadits Riwayat Thabrani dan Ibnu Nashr)
“Aku perhatikan salat malam rasulullah , yaitu (Ia) salat dua raka’at yang ringan, kemudian ia salat dua raka’at yang panjang sekali, kemudian salat dua raka’at, dan dua raka’at ini tidak sepanjang dua raka’at sebelumnya, kemudian salat dua raka’at (tidak sepanjang dua raka’at sebelumnya), kemudian salat dua raka’at (tidak sepanjang dua raka’at sebelumnya), kemudian salat dua raka’at (tidak sepanjang dua raka’at sebelumnya), kemudian witir satu raka’at, yang demikian adalah 13 raka’at”.Diriwayatkan oleh Malik, Muslim, Abu Awanah, Abu Dawud dan Ibnu Nashr.
“Artinya: Dari Abi Salamah bin Abdurrahman bahwasanya ia bertanya kepada ‘Aisyah radyillahu anha tentang salat rasulullah  di bulan Ramadan. Maka ia menjawab ; Tidak pernah rasulullah  kerjakan (tathawwu’) di bulan Ramadan dan tidak pula di lainnya lebih dari sebelas raka’at 1) (yaitu) ia salat empat (raka’at) jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian ia salat empat (raka’at) 2) jangan engkau tanya panjang dan bagusnya kemudian ia salat tiga raka’at”.[Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim]

Posted from WordPress for Android

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Juni 2015 in Tak Berkategori